Saturday, June 28, 2014

Cerita keonaran Kerja

No comments :
Cerita sendu

Mengapa ya orang kalau ada masalah bikin galau,, frustasi pengen nangis dan lain sebagainya,,,?

pada dasarnya manusia itu pasti tidak luput dari kesalahan dan ketika mengerjakan tugasnya manusia juga tidak luput dari kesalahan kesalahan itu yang terjadi akibat kurang teliti  yang dpat merugikan diri sendiri dan orang lain yang akibatnya kena marah marah dari orang yang bersangkutan alhamdulillahnya orang yang bersangkutan marahnya gk begitu heboh  tapi kenapa orang yang tidak bersangkutan kok marahnya heboh sekali yang membuat sakit hati yang membuat salah yang bikin teringat ingat kejadian itu trus,,
tolong kalau ada masalah orang lain tolong jangan ikut"tan biar dia sendiri yang mengurusi
dan Ma'afkan lah orang yang membuat salah.



Tahukah anda apa perbuatan yang paling sulit dilakukan dalam hidup ini ?
Banyak yang berbicara Sukses, Juara, Slalu Semangat, dll. Yah itu benar tetapi maksud saya disini adalah bagaimana cara melakukan hal sulit dapat mudah dilakukan, tapi sebelumnya saya akan kasih Bocoran sedikit, Bahwa yang sebenarnya sulit dilakukan adalah memberikan maaf atau memaafkan orang lain, banyak faktor yang mempengaruhinya antaranya yaitu rasa gengsi dan dendam.




Monday, June 23, 2014

ALIANDO

No comments :







ALIando adalah seorang cowok yang membintangi senetron yang baru tersohor di kalangan mayarakat sekarng ini senetron yang berjudul Ganteng-ganteng Srigala
Aliando juga di hebohkan mirip dengan Al.

Sunday, June 22, 2014

HandPhone kuno yang ada aplikasi Ular-Ularan

No comments :














Masih ingat ketika kita hanya punya permainan Snake pada telepon genggam? Kini permainan “kuno” 

tersebut kemungkinan mencuat kembali bersama handset yang dulu pernah sangat populer pada zaman 

dahulu tapi keungulan handphone kuno aitu batrenya yang tahan lama dan tidak mudah ngedropan 

handphone jadul juga bisa mengirit uang.

Hand Phone Lawas

No comments :

















Koleksi HP kunooo Jadull

Tuesday, June 17, 2014

Snowflakes (KEPINGAN SALJU)

No comments :
Snowflakes

Do you want to see snowflakes falling down in your room?

Follow the instructions below

Things Needed

    a glass jar
    a white plastic bag
    strong glue
    a small plastic toy
    a pair scissors
    some water

Steps :

    cut a part of the plastic bag into very small pieces
    glue the small plastic toy on the inside of the jar cap. leave it to dyr.
    next, put the small piece of the white plastic bag into the jar and fill the whole jar with some water.
    when the glue is dry, fix the cap back tightly onto the jar. turn the jar upside down and wach the 'snowflakes' falling down on the toy. beautiful, isn't it?

  


INDONESIA

Snowflakes

Apakah Anda ingin melihat kepingan salju jatuh di kamar Anda?

Ikuti petunjuk di bawah

hal Dibutuhkan

     botol kaca
     kantong plastik putih
     lem yang kuat
     mainan plastik kecil
     sepasang gunting
     air

langkah-langkah:

     memotong bagian dari kantong plastik menjadi potongan-potongan yang sangat kecil
     lem mainan plastik kecil di bagian dalam tutup jar. menyerahkan kepada DYR.
     berikutnya, menempatkan sepotong kecil dari kantong plastik putih ke dalam botol dan mengisi seluruh tabung dengan air.
     ketika lem kering, memperbaiki tutup kembali erat ke tabung. mengubah jar terbalik dan wach yang 'kepingan salju' jatuh pada mainan. indah, bukan?





Sunday, June 15, 2014

KARYA TULIS

No comments :
PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT

KARYA TULIS ILMIAH
Disusun Guna Untuk Memenuhi Persyaratan Mendapat Beasiswa Berprestasi
Tahun Ajaran 2014





Disusun Oleh :
Rhomlatul Nihayah :               111 107


0
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/ PAI
TAHUN 2014
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia, karena pendidikan sendiri adalah media dalam membina kepribadian dan mengembangkan potensi yang dimiliki manusia. Pemahaman akan sifat-sifat, karakter dan potensi yang ada pada manusia merupakan salah satu upaya pendidikan dalam membentuk kepribadian manusia. Landasan utama untuk mewujudkan pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang berkualitas, haruslah disandarkan pada nilai-nilai yang hakiki, yang bersumber dari Dzat yang Mahahakiki (nilai ketuhanan) dan nilai kemanusiaan (fitrah yang hanif).
Islam sebagai agama yang mengajarkan keseimbangan hubungan horizontal (manusia-Tuhan) dan hubungan vertical (manusia-manusia) menjadikannya basis dalam pendidikan nilai akhlak. Keseimbangan itu merupakan landasan dalam menjaga hubungan dengan Tuhan  yang di implementasikan dengan berakhlakul karimah, mempunyai budi pekerti yang baik dan terpuji. Implementasi dari konsep pendidikan nilai akhlak pada proses penanamannya adalah pengintegrasian antara materi dan metodologi yang dituangkan dalam pembelajaran nilai akhlak yang menyeluruh baik kognitif, afektif maupun psikomotorik serta suasana pembelajaran yang mendukung untuk proses penanaman nilai akhlak atau nilai budi pekerti. Sehingga peserta didik dapat bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan degradasi akhlak, moral manusia.
Pendidikan Islam adalah,pengenalan dan pengakuan yang
secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat-
tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga
membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di
dalam tatanan wujud dan kepribadian. Jadi pendidikan ini hanyalah untuk
manusia saja.
Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan[1]
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.       Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam pada keluarga?
2.      Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam pada sekolah?
3.      Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam pada masyarakat?

A.   Pendidikan Agama Islam pada Lingkungan Keluarga
Pendidikan pada umumnya terbagi pada dua bagian besar, yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Hal ini berdasar pada: “Maka proses belajar itu bagi seseorang dapat terus berlangsung dan tidak terbatas pada dunia sekolah saja.
Pengertian yang jelas tentang pendidikan agama yang dilakukan di lingkungan keluarga interaksi yang teratur dan diarahkan untuk membimbing jasmani dan rohani anak dengan ajaran Islam, yang berlangsung di lingkungan keluarga. Dalam pelaksanaannya, maka proses pendidikan Agama Islam di lingkungan keluarga berlangsung antara orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan agama, dan anak-anak sebagai sasaran pendidikannya. Sedang ibu dalam kaitannya dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga, maka kedudukannya sebagai pendidik yang utama dan pertama, dalam kedudukannya sebagai pendidik, maka seorang ibu tidak cukup hanya memanggil seorang guru agama dari luar untuk mendidik anaknya di rumah, dan bukan dalam pengertian yang demikianlah yang dimaksud dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga. Akan tetapi lebih ditekankan adanya bimbingan yang terarah dan berkelanjutan dari orang-orang dewasa yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga untuk membimbing anak.
Tanggung jawab ini didasarkan atas motivasi cinta kasih, yang pada hakekatnya juga dijiwai oleh tanggung jawab moral. Secara sadar orang tua mengemban kewajiban untuk memelihara dan membina anaknya sampai ia mampu berdikari sendiri (dewasa) baik secara fisik, sosial, ekonomi maupun moral. Sedikitnya orang tua meletakan dasar-dasar untuk mandiri itu.
Dorongan atau motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai religius spiritual yang dijiwai Ketuhanan Yang Maha Esa dan agama masing-masing, di samping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga.[2]
Dalam kutipan di atas dikemukakan bahwa lingkungan keluarga itu amat dominan dalam memberikan pengaruh-pengaruh keagamaan terhadap anak-anak, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan pendidikan agama sangat menentukan baik keberhasilannya. Sehingga amat disayangkan kalau kesempatan yang baik dari lingkungan pertama yaitu keluarga itu disia-siakan atau dilalui anak tanpa pendidikan agama dari pihak ibu dan bapak serta orang-orang yang bertanggung jawab di sekitarnya.
Hubungannya dengan kelanjutan pendidikan atau kehidupan anak di masa mendatang, maka pendidikan di lingkungan keluarga, termasuk di dalamnya pendidikan agama, hal itu merupakan sebagai tindakan pemberian bekal-bekal kemampuan dari orang tua terhadap anak-anaknya, dalam menghadapi masa-masa yang akan dilaluinya.
Dalam hubungannya dengan pendidikan di sekolah maka sebagai persiapan untuk mengikuti pendidikan atau sebagai pelengkap dari pendidikan yang berlangsung di bangku sekolah. Dan dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, maka sebagai upaya untuk mempersiapkan diri agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pendidikan merupakan sebuah proses untuk memaknai kehidupan. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin mengedepankan teknologi yang telah  mempermudah hidup dan kehidupan, banyak kesenangan hidup yang dinikmati serta fasilitas yang dapat dirasakan dengan bertambahnya setiap penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi. Akan tetapi semua itu pada kenyataannya banyak sekali kesenangan yang diperoleh itu justru menyebabkan malapetaka dan membuat manusia semakin lupa kepada Tuhannya[3].
B.      Pendidikan Agama Islam pada Lingkungan Sekolah

Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah juga mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, bahwa pendidikan Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk, pertama, pendidikan agama diselenggarakan dalam bentuk pendidikan agama Islam di satuan pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan[4].
Kedua, pendidikan umum berciri Islam pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Ketiga, pendidikan keagamaan Islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan pondok pesantren yang diselenggarakan pada jalur formal, dan non formal, serta informal.
Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada sekolah diarahkan pada peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agama Islam pada sekolah dengan perkembangan kondisi lingkungan lokal, nasional, dan global, serta kebutuhan peserta didik. Kegiatan dalam rangka pengembangan kurikulum adalah pembinaan atas satuan pendidikan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam tingkat satuan pendidikan.
Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah yang sedang berlangsung belum semuanya memenuhi harapan kita sebagai umat Islam mengingat kondisi dan kendala yang dihadapi, maka diperlukan pedoman dan pegangan dalam membina pendidikan agama Islam.
Hampir sebagian besar umat Islam menginginkan peserta didiknya bisa membaca Al Quran, namun bisakah orang tua mengandalkan kepada sekolah agar peserta didiknya bisa membaca Al Quran, praktek pendidikan agama Islam di sekolah, bisa mengerti dan mampu melaksanakan pokok-pokok ajaran agama atau kewajiban-kewajiban ‘ainiyah seperti syarat dan rukun shalat. Maka sekolah nampaknya belum bisa memberikan harapan itu karena terbatasnya waktu alokasi atau jam pelajaran di sekolah.
Ada beberapa kemungkinan yang dihadapi oleh peserta didik, yaitu peserta didik belajar agama Islam dari sisa waktu yang dimiliki oleh orang tuanya. Peserta didik belajar agama Islam dengan mengundang ustadz ke rumahnya. Ada pula peserta didik yang hanya mengandalkan pendidikan agama Islam dari sekolahnya tanpa mendapatkan tambahan belajar agama dari tempat lain. Dalam pendidikan agama Islam banyak yang mesti dikuasai oleh peserta didik, seperti berkaitan dengan pengetahuan, penanaman akidah, praktek ibadah, pembinaan perilaku atau yang dalam Undang-Undang disebut pembinaan  akhlak.
Di sekolah yang melakukan pemisahan siswa beda agama pada jam pelajaran agama perlu ada antisipasi agar pemisahan tidak berpengaruh buruk pada rasa aman dan nyaman dengan penganut agama yang berbeda. Hilangnya rasa aman dan nyaman akan merusak saling percaya antar anggota masyarakat yang mana saling percaya ini merupakan modal sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama yang adil dan beradab.
Pelajaran agama untuk siswa dari beragam agama bisa dilakukan dengan saling berbagi pengalaman penghayatan keimanan, berbagi informasi dan pengetahuan siswa tentang agamanya. Cara belajar seperti ini mendorong siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab dalam mendalami agamanya dan pada saat bersamaan membiasakan sikap hormat dan simpati bagi penganut agma yang berbeda.
C.   Pendidikan Agama Islam pada Lingkungan Masyarakat

Pendidikan dimanapun dan kapanpun masih dipercaya orang sebagai media ampuh untuk membentuk kepribadian anak ke arah kedewasaan. Pendidikan agama adalah unsur terpenting dalam pendidikan moral dan pembinaan mental.
Pendidikan moral yang paling baik sebenarnya terdapat dalam agama karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri dan penghayatan tinggi tanpa ada unsur paksaan dari luar, datangnya dari keyakinan beragama. Karenanya keyakinan itu harus dipupuk dan ditanamkan sedari kecil sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadian anak sampai ia dewasa. Melihat dari sini, pendidikan agama di sekolah mendapat beban dan tanggung jawab moral yang tidak sedikit apalagi jika dikaitkan dengan upaya pembinaan mental remaja. Usia remaja ditandai dengan gejolak kejiwaan yang berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi, kesadaran sosial, pertumbuhan moral, sikap dan kecenderungan serta pada akhirnya turut mewarnai sikap keberagamaan yang dianut (pola ibadah).
Pada usia remaja, ditinjau dari aspek ideas and mental growth, kekritisan dalam merangkum pemikiran-pemikiran keagamaan mulai muncul, kekritisan yang dimaksud bisa berupa kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti uraian-uraian yang disampaikan guru Agama di sekolah apalagi jika metodologi pengajaran yang disampaikan cenderung monoton dan berbau indoktrinasi. Jadi mereka telah mulai menampilkan respon ketidak sukaan terhadap materi keagamaan yang dipaketkan di sekolah.

PENUTUP

A.   KESIMPULAN
1.      Keluarga adalah wadah yang pertama dan utama dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.
2.      Sekolah adalah lanjutan dari pendidikan keluarga yang mendidik lebih folus,teratur dan terarah.
3.     Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan anak yang ketiga setelah sekolah. Peran yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah bagaimana masyarakat bisa memberikan dan  menciptakan suasana yang kondusif bagi anak, remaja dan pemuda untuk tumbuh secara baik.

REFRENSI
Amin Al-Hawani, 2009. Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian  III, Bandung, PT Imtima,
Darajat,  Zakiyah. 1983. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.  Jakarta: Penerbit Gunung Agung.
Aziz Ahyadi, Abdul.  1991. Pendidikan  Agama: Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung:  Penerbit Sinar Baru.
Agus wibowo. 2013, pendidikan karakter disekolah. yogyakarta: penerbit pustaka pelajar.








[1]Amin,Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian  III, Bandung, PT Imtima, 2009, hal 2
[2] Darajat,  Zakiyah.. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.  Jakarta: Penerbit Gunung Agung, 1983,hal 12-15
[3]Aziz Ahyadi, Abdul,. Pendidikan  Agama: Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung:  Penerbit Sinar Baru, 1991,hal. 35
[4] Agus wibowo, pendidikan karakter disekolah, yogyakarta, penerbit: pustaka pelajar, 2013. Hal.139