Tuesday, June 10, 2014

KEGIATAN MASJID YANG BERSIFAT BISNIS

No comments :

KEGIATAN MASJID YANG BERSIFAT BISNIS

Masjid adalah simbol keislaman. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, karena masjid merupakan simbol ketundukan umat Islam kepada Allah swt. Kata masjid terulang dua puluh delapan kali dalam Alquran. Secara bahasa masjid berasal dari kata sajada-sujud artinya patuh; taat; tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, atau bersujud ini adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari makna-makna tersebut. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk shalat dinamai masjid, “tempat bersujud”.
Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tapi karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid menjadi tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah swt. Alquran menegaskan: Masjid merupakan tempat orang berkumpul melakukan sholat secara berjamaah, dan meningkatkan solidaritas serta silaturrahmi di antara sesama kaum muslim. Di masa-masa kejayaan Islam, masjid bukan saja menjadi tempat sholat, tetapi menjadi pusat kegiatan kaum muslim seperti pemerintahan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, peradilan, dan kemiliteran.
Masjid juga berfungsi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Islam seperti diskusi, mengaji, dan memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan agama serta pengetahuan umum.
Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.
            Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata “bisnis” sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung skupnya — penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya “bisnis pertelevisian.” Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi “bisnis” yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.
Dalam penelitian  ini kami meneliti tentang kegiatan yang berbau bisnis dalam masjid agung , dalam masjid tersebut banyak berbagai macam bisnis yang menaungi pengembangannya, diantara bisnis tersebut adalah:
Adanya kantin kejujuran, yaitu menjual minuman dan Jangan heran jika Anda tidak menemui seorang penjaga pun di kantin tersebut, Meski banyak pembeli "menyerbu" minuman yang dijajakan, sang penjaga kantin tidak akan pernah muncul. Uniknya, pembeli memahami benar keadaan itu. Mereka akan mengeluarkan uang dari saku dan meletakkannya dalam kotak khusus saat mengambil minuman, yang jumlahnya sesuai dengan harga banderol, dengan uang yang pas. Bukan karena  penjaga kantin sedang berhalangan atau sakit. Melainkan kantin itu memang tidak memiliki penjaga. Hanya kejujuran pembelilah yang memegang peran dalam kegiatan operasional kantin tersebut sehari-hari. Rugikah? Tentu saja tidak, selama kejujuran dapat ditegakkan oleh para pembeli. Konsep yang sangat sederhana, namun mungkin akan sangat sulit dalam pelaksanaannya. Sekilas, kantin ini tidak berbeda dengan  kebanyakan kantin lainnya. Perbedaanya hanya dalam pola pembayaran yang menitikberatkan pada kesadaran pembeli. "Kantin Kejujuran ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri, lingkungan, hingga bangsa dan negara"
Kantin kejujuran dalam masjid tersebut mendapt saldo tiga juta lebih melebihi modal sebelumnya  dari jasa parkir kendaraan, banyaknya pengendara motor yang parkir kendaraan dalam lingkungan masjid, meskipun tidak ada tarif untuk parkir kendaraan dan hanya mengandalkan keikhlasan, namun penghasilan yang didapat dari parkir kendaraan tersebut sangat luar biasa dan melebihi target, perminggunya dapat menghasilkan kira-kira tiga puluh  juta rupiah[1].
Disamping itu masjid agung juga menghasilkan dana dari kas masjid bulanan (kas Besar) dan kas Mingguan yang dihasilkan dari kas tiap jumat (waktu sholat jumat), dalam anggarannya kas masjid jum’atan dapat mengumpulkan  dana sebesar empat juta rupiah dari jamah sholat jum’at[2].
Masjid dalam pendanaannya juga dibantu dengan donator-donatur tetap, di antaranya yaitu: dari pabrik pabrik ternama di kota kudus seperti pabrik polytron, Pabrik Sukun, Pabrik Djarum, Perusahaan Jenang 33, dan perusaan Besar Lainya yang ada di kota Kudus   para donatur dengan sangat senang memberikan shodaqohnya untuk pengelolaan masjid, dan rata-rata dengan jumlah yang tidak sedikit[3].
Sekilas tentang pengurus masjid tersebut, dahulu mereka mendapatkan upah atau bisyarohnya dari uang kas masjid, selang sekarang sudah berubah, yaitu: bisyaroh atau upah tersebut didapat dari APBD(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yaitu berkisar antara 10 juta perbulan sedangkan imaroh yang dikeluarkan kas Masjid yakni sekitar 2 juta perbulanya.[4]
Di masjid agung juga ada pelayanan berobat gratis yang dilakukan setiap hari jum’at sekitar jam 9 sampai jam 11 dokternya didatangkan langsung dari puskesmas wergu. Untuk para pasien yang berobat, dikenakan biaya Rp.2000 untuk mengganti pembelian obat dan biaya administrasi.[5]
 Salah satu pendukung utama bagi berhasilnya program dan aktivitas masjid adalah bagusnya menajemen keuangan masjid. Manajemen keuangan masjid meliputi pengadaan uang, pembelajaan yang tepat, administrasi keuangan yang baik. Sehingga tumbuh kepercayaan bagi pengurus masjid yang dengan demikian juga akan mengundang orang lebih senang beramal.   Sebaliknya keuangan yang tanpa administrasi tidak dapat dikontrol dan mengakibatkan kerugian diantaranya:
             Pertama        : Orang tidak tahu apakah keuangan masjid ada atau tidak.
            Kedua           : para jama’ah dan Pendonatur merasa ragu untuk memberikan sumbangan .
             Ketiga          :Orang menjadi ragu apakah uang dipakai dengan baik, atau Hanya sebagian saja yang dimanfaatkan, dan sebagian lagi
                                 tidak jelas. Atau bahkan terjadi suatu pemborosan.



           


[1] Hasil Wawancara dengan  Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus
[2] Hasil wawancar dengan Bpk H. Rif’i Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid Agung Kudus, Pada tanggal ‎16 ‎Desember ‎2013, pukul ‏‎18:37:23, di kediaman beliau
[3] Hasil wawancar dengan Bpk H. Rif’i Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid Agung Kudus, Pada tanggal ‎16 ‎Desember ‎2013, pukul ‏‎18:37:23, di kediaman beliau

[4] Hasil Wawancara dengan  Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus

[5] Hasil Wawancara dengan  Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus

No comments :

Post a Comment