KEGIATAN
MASJID YANG BERSIFAT BISNIS
Masjid adalah simbol keislaman. Ia
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, karena masjid merupakan simbol
ketundukan umat Islam kepada Allah swt. Kata masjid terulang dua puluh delapan
kali dalam Alquran. Secara bahasa masjid berasal dari kata sajada-sujud artinya
patuh; taat; tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut,
dan kaki ke bumi, atau bersujud ini adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata
dari makna-makna tersebut. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan
untuk shalat dinamai masjid, “tempat bersujud”.
Dalam pengertian sehari-hari, masjid
merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tapi karena akar katanya
mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid menjadi tempat melakukan
segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah swt. Alquran
menegaskan: Masjid merupakan tempat orang berkumpul
melakukan sholat secara berjamaah, dan meningkatkan solidaritas serta
silaturrahmi di antara sesama kaum muslim. Di masa-masa kejayaan
Islam, masjid bukan saja menjadi tempat sholat, tetapi menjadi pusat kegiatan
kaum muslim seperti pemerintahan, ideologi, politik, ekonomi, sosial,
peradilan, dan kemiliteran.
Masjid juga berfungsi
sebagai pusat pengembangan kebudayaan Islam seperti diskusi, mengaji, dan
memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan agama serta pengetahuan umum.
Bisnis
adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau
bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa
Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti “sibuk”
dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk
mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja.
Secara etimologi, bisnis berarti
keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang
menghasilkan keuntungan. Kata “bisnis” sendiri memiliki tiga penggunaan,
tergantung skupnya — penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan
usaha, yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan
mencari laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada
sektor pasar tertentu, misalnya “bisnis pertelevisian.” Penggunaan yang paling
luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas penyedia
barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi “bisnis” yang tepat masih menjadi
bahan perdebatan hingga saat ini.
Dalam penelitian
ini kami meneliti tentang kegiatan yang berbau bisnis dalam masjid agung
, dalam masjid tersebut banyak berbagai macam bisnis yang menaungi
pengembangannya, diantara bisnis tersebut adalah:
Adanya
kantin kejujuran, yaitu menjual minuman dan Jangan heran jika Anda tidak
menemui seorang penjaga pun di kantin tersebut, Meski banyak pembeli
"menyerbu" minuman
yang dijajakan, sang penjaga kantin tidak akan pernah muncul. Uniknya, pembeli
memahami benar keadaan itu. Mereka akan mengeluarkan uang dari saku dan
meletakkannya dalam kotak khusus saat mengambil minuman, yang jumlahnya sesuai
dengan harga banderol, dengan uang yang pas. Bukan karena penjaga kantin sedang berhalangan atau sakit. Melainkan kantin itu
memang tidak memiliki penjaga.
Hanya kejujuran pembelilah yang memegang peran dalam kegiatan operasional
kantin tersebut sehari-hari. Rugikah? Tentu saja tidak, selama kejujuran dapat
ditegakkan oleh para pembeli. Konsep yang sangat sederhana, namun mungkin akan
sangat sulit dalam pelaksanaannya. Sekilas, kantin ini tidak berbeda dengan kebanyakan kantin lainnya. Perbedaanya hanya
dalam pola pembayaran yang menitikberatkan pada kesadaran pembeli. "Kantin Kejujuran
ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya
kejujuran terhadap diri sendiri, lingkungan, hingga bangsa dan negara"
Kantin kejujuran dalam masjid tersebut mendapt saldo
tiga juta lebih melebihi modal sebelumnya dari jasa
parkir kendaraan, banyaknya pengendara motor yang parkir kendaraan dalam
lingkungan masjid, meskipun tidak ada tarif untuk parkir kendaraan dan hanya
mengandalkan keikhlasan, namun penghasilan yang didapat dari parkir kendaraan tersebut
sangat luar biasa dan melebihi target, perminggunya dapat menghasilkan
kira-kira tiga puluh juta rupiah[1].
Disamping itu masjid agung juga menghasilkan dana dari
kas masjid bulanan (kas Besar) dan kas Mingguan yang dihasilkan dari kas tiap jumat
(waktu sholat jumat), dalam anggarannya kas
masjid jum’atan dapat
mengumpulkan dana sebesar empat juta rupiah dari jamah sholat jum’at[2].
Masjid dalam pendanaannya juga dibantu dengan
donator-donatur tetap, di antaranya yaitu: dari pabrik
pabrik ternama di kota kudus seperti pabrik polytron, Pabrik Sukun, Pabrik
Djarum, Perusahaan Jenang 33, dan perusaan Besar Lainya yang ada di kota
Kudus para donatur dengan sangat senang
memberikan shodaqohnya untuk pengelolaan masjid, dan rata-rata dengan jumlah
yang tidak sedikit[3].
Sekilas tentang pengurus masjid tersebut, dahulu
mereka mendapatkan upah atau bisyarohnya dari uang kas masjid, selang sekarang
sudah berubah, yaitu: bisyaroh atau upah tersebut didapat dari APBD(Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah) yaitu berkisar antara 10 juta perbulan sedangkan
imaroh yang dikeluarkan kas Masjid yakni sekitar 2 juta perbulanya.[4]
Di masjid agung juga ada pelayanan
berobat gratis yang dilakukan setiap hari jum’at sekitar jam 9 sampai jam 11
dokternya didatangkan langsung dari puskesmas wergu. Untuk para pasien yang
berobat, dikenakan biaya Rp.2000 untuk mengganti pembelian obat dan biaya
administrasi.[5]
Salah satu
pendukung utama bagi berhasilnya program dan aktivitas masjid adalah bagusnya menajemen
keuangan masjid. Manajemen keuangan masjid meliputi pengadaan uang,
pembelajaan yang tepat, administrasi keuangan yang baik. Sehingga tumbuh
kepercayaan bagi pengurus masjid yang dengan demikian juga akan mengundang
orang lebih senang beramal. Sebaliknya keuangan yang tanpa
administrasi tidak dapat dikontrol dan mengakibatkan kerugian diantaranya:
Pertama : Orang tidak
tahu apakah keuangan masjid ada atau tidak.
Kedua : para jama’ah dan Pendonatur merasa ragu untuk memberikan sumbangan .
Ketiga :Orang menjadi ragu apakah uang dipakai dengan baik, atau Hanya sebagian saja yang dimanfaatkan, dan sebagian lagi
tidak jelas. Atau bahkan terjadi suatu pemborosan.
[1]
Hasil Wawancara dengan Bpk. Masrukhan,
Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember
2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus
[2] Hasil wawancar dengan
Bpk H. Rif’i Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid Agung Kudus, Pada
tanggal 16 Desember 2013, pukul 18:37:23, di kediaman beliau
[3] Hasil wawancar dengan
Bpk H. Rif’i Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid Agung Kudus, Pada
tanggal 16 Desember 2013, pukul 18:37:23, di kediaman beliau
[4] Hasil Wawancara dengan Bpk.
Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17
Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus
[5] Hasil Wawancara
dengan Bpk. Masrukhan,
Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember
2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid Agung Kudus

No comments :
Post a Comment